Langsung ke konten utama

Bukan Puisi

“Maka dari itu, sekolah yang pintar, biar tidak menjadi petani seperti kakekmu ini. Jadi petani itu capek.” Kakek pernah berpesan, dulu sekali. Lantas aku menjawabnya dengan nada sok bijak, “yang penting itu bukan pinter kek, tapi sehat. Kalau aku pintar, aku akan malas menggerakkan tubuh ini, bisa-bisa aku lumpuh, loyo. Dari pada pintar, mending aku jadi petani saja seperti kakek, sehal wal afiat”. Percakapan itu terjadi di tengah sawah yang sore, angin berhembus santai, matahari tak bersinar sombong. Aku lupa bagaimana ekspresi kakek waktu itu.

Bagiku, sekolah itu adalah masuk kelas tepat waktu, duduk di kursi, mengacungkan tangan untuk mengisi absen dan mematuhi aturan-aturan kelas. Sisanya adalah kebebasan. Aku sekarang duduk di bangku kuliah, berbicara jika ingin berbicara, mengerjakan tugas-tugas dengan tidak ikhlas, lalu pulang, keluar dari kelas dengan beberapa kekecewaan. Entah itu tugas kuliah, diskusi, ujian kelas, semakin lama aku kuliah, semakin sadar kalau bukan begini seharusnya.

Jadi begini, aku kuliah di fakultas ekonomi. Untuk menjadi pintar, aku harus menguasai ilmu-ilmu ekonomi. Aku mulai membaca buku, menulis dan berdiskusi. Lalu aku berpikir lagi, aku bertanya, “untuk apa aku belajar?” Aku sadar ilmu ini bisa membuat orang menjadi lebih sejahtera, ketika ilmu ini diterapkan. Namun di waktu yang sama, aku juga tahu kalau ilmu ini juga bisa menindas seseorang atau masyarakat yang tak berilmu. Apakah kau bisa membayangkannya?

Apakah kau tahu gedung-gedung tinggi di kota? Apakah kau tahu pabrik-pabrik yang baru di bangun? Semuanya diciptakan oleh ilmu, tanpa terkecuali. Kota penuh dengan gedung dan pabrik itu, namun pembangunan tetap tak berhenti. Walaupun harus dibangun di desa-desa yang damai, walaupun membabat hutan sagu, walaupun harus mengusir oarang-orang yang tinggal di desa. Walaupun harus menodongkan senjata, sampai pelatuk ditarik dan satu atau semuanya mati. Gedung dan pabrik, ia harus ada untuk kemajuan negara.

Aku pun pergi jauh dari kelas, mencari tempat pelampiasan. Sampai aku bertemu mereka, yang melawan. Berbicara dengan orang-orang ini membuatku sadar, selalu ada keberpihakan, bagi orang-orang yang berilmu. Jika kau pintar, akan kau gunakan untuk apa kepintaranmu itu? Untuk membangun gedung dan pabrik, atau membela mereka yang disingkirkan? Untuk apa?

Benar kata orang bahwa belajar bukan tentang yang barusan kutulis saja. Aku juga tidak ingin menempitkan persoalan. Kau bebas untuk menjadi pintar, kau bebas membaca buku apa saja, kau juga bebas untuk membangun gedung dan pabrik itu. Tapi hati-hatilah, jika kau menyingkirkan orang-orang yang tinggal di sana. Akan ada orang-orang yang siap untuk melawan, mereka berteriak lantang untuk menolak. Mereka akan terus memburumu seperti kutukan. Mereka yakin, kau dan bangunan dan pabrikmu akan hancur. Mereka tak habis-habis, terus hidup, walaupun mati akan lahir kembali, akan tetap ada dan berlipat ganda.

Kau mungkin tetap tak takut dan tetap percaya untuk menang. Memang benar itu, kau punya kuasa, kau punya hukum, kau punya otot besar, kau punya senjata. Kau punya uang untuk membeli semuanya. Sedangkan mereka, orang-orang yang tinggal di sana, tak punya uang sebanyak uangmu, juga tak berilmu setinggi ilmumu. Orang-orang itu memang sudah kalah sejak awal, bahkan sebelum memulai pertempuran. Aku juga sudah kalah, tulisanku tak mampu menahan kekerasan aparat keamanan yang ganas. Omonganku sudah dibinasakan di ruang kelas itu. Tubuhku kecil, kurus, tak pandai pula.

Maka dari itu, aku melakukan hal yang pernah disarankan teman lamaku, “lakukanlah pekerjaan yang bisa menyelamatkan seseorang, setidaknya itu lebih baik daripada melakukan pekerjaan yang bisa membunuh seseorang”. Karena dia berkata “dihabisi oleh kenyataan dan menyerah, kedua itu hal yang berbeda”. Aku pernah bertanya, “dari mana kau tahu?” dan temanku menjawab, “dasar bodoh, tentu saja karena aku adalah temanmu”. Temanku sudah mati dan ia masih hidup.

Kami kalah dan Fajar Merah berteriak:

Karena kebenaran...akan terus hidup
Sekalipun kau lenyapkan
Kebenaran takkan mati
...

Jika hidup adalah neraka, maka aku adalah pendosa yang akan menantang malaikat untuk berkelahi, siang dan malam, pukulan dan kata-kata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnalisme Kritis dan Outline?*

Sebuah pengantar

Perlu diketahui kalau jurnalisme kritis itu bukanlah sebuah genre jurnalisme. Ia hanyalah perpaduan antara jurnalisme dengan teori kritis dari aliran filsafat mazhab kritis (Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas). Mahzab ini sering dibandingkan atau dilawankan dengan yang namanya aliran positivis (Emile Durkheim, Max Weber, Auguste Comte). Kalau kita belajar filsafat mazhab kritis, kita akan tahu bahwa perbandingan antara positivis dan kritis ini mengacu pada penolakan para pemikir di mazhab kritis terhadap filsafat/ilmu positivis. Kenapa ditolak? Bagi pemikir mazhab kritis, ilmu positivis telah gagal membawa kesejahteraan kepada manusia.

Mengapa (Jurnalisme) Kritis?

Dulu, kakek saya pernah bertanya, “apa bedanya ilmu dengan harta?” Saya tak menjawab, bingung. Firasat saya mengatakan, kakek pasti punya jawaban yang tidak biasa. Dan benar dugaan saya, katanya “kalau harta, yang harus melindungi itu kamu. Tapi ilmu, ilmulah yang akan melindungimu”.

Buku dan Senja (2)

Sudah tiga ronde Luis kalah dalam permainan catur melawan Albert. Albert menantang Luis lagi, ia merasakan kemajuan dari strategi catur Luis, tapi Luis menolaknya. Ia sudah bosan, dan ia berjanji akan mengalahkan Albert di waktu lain. Kemudian mereka melanjutkan bincang-bincang terkait buku yang mereka baca.