Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2018

Aliansi Rakyat Malang Melawan Kebijakan & Tindasan Fasis Rezim Jokowi-JK*

Salam Perjuangan untuk Rakyat Seluruh Bumi Manusia…!

Kita tahu bahwa tanggal 1 mei adalah tanggal merah, artinya itu adalah hari libur. Tapi perlu diketahui kalau tanggal 1 mei bukanlah hari libur untuk bersenang-senang, bukan hari libur untuk menghabiskan waktu untuk beristirahat dari kesibukan kita sehari-hari. Tanggal 01 mei adalah Hari Buruh se-Dunia, hari untuk “menunjukan perlawanan atas penindasan terhadap kaum buruh”. Perlawanan dengan aksi solidaritas turun ke jalan, saling menjaga, saling menguatkan. Melantangkan suara-suara perlawanan untuk memperjuangkan keadilan bagi kaum buruh.

Inovasi dan Hal-Hal yang Belum Selesai*

Setelah agak lama berpura-pura, kekecewaan itu datang dengan lebih jelas. Banyak hal yang tidak terpikirkan, banyak hal yang tidak tersampaikan, banyak hal yang tidak dilaksanakan, banyak hal yang tidak dilakukan bersama. Tak semua isu mampu ditindaklanjuti oleh redaksi, Mungkin sejak awal kita masih belum mampu untuk melihat sesuatu sebagai hal yang penting untuk disampaikan kepada pembaca. Kita juga belum bisa langsung tergerak untuk segera memberitakan sesuatu yang penting itu. Kita tak tahu harus mencari data dimana, wawancara siapa, bagaimana memahami peristiwa atau fenomena, mana yang timpang, dan harusnya gimana?

Jika Differance Adalah Alasan untuk Malas

Selasa, 16 Januari 2018, aku menuliskan judul untuk tulisan ini. Judulnya seperti yang ada di atas, lalu ada beberapa kata yang menjadi kerangka tulisan. Kata-kata itu adalah “Konsep difeerance derrida/Menulis, makna, dan typo/Papan, Sandang, Makan/Tujuan hidup. Kemudian saya kepikirandan mau melanjutkan tulisannya saat ini, kamis 19 april 2018. Masih teringat apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan, tentang hasil pembacaan saya setelah membaca Derrida (filsuf postmoderen) dan mencoba mengkritik persepsinya terhadap teks dan kehidupan.

Cerita di Sekolah Filsafat*

Gemercik air keran wastafel kumainkan pada 06.30 pagi. Aku menyikat gigi dan mencuci muka, lalu bersiap-siap untuk melanjutkan forum Sekolah Filsafat yang kami mulai pada malam sebelumnya. Teman-temanku terlihat masih tidur, ada yang tidur di kamar, ada yang tidur di ruang forum tanpa kasur, ada yang di luar forum tapi dengan kasur. Aku kaget ketika melihat pak pemateri, Mas Topik de Kikie, tidur di ruang forum, tidak di kasur. Teman-temanku maupun aku tidak menyadari hal ini, hahah… Yaa, beginilah kami, anak UAPM Inovasi memperlakukan seniornya.

Tauhid (Tanah Untuk Hidup Kita)*

Assalamualaikum wr. wb.
Di sela-sela rutinitas kita yang menjenuhkan seperti kuliah, kerja, sholat dan ngaji, ternyata masalah kepemilikan lahan (bahasa kerennya kasus agraria) terus ada dan berlipat ganda.
Apa itu kasus agraria? Singkatnya kasus agraria adalah segala permasalahan tentang kepemilikan tanah, biasanya yang terjadi itu antara masyarakat dengan perusahaan. Seperti yang saat ini sedang terjadi (lebih tepatnya hari kamis 12 april 2018) di Tamansari, Bandung. Masyarakat yang menolak pembangunan rumah deret dipukuli dan diserang oleh polisi yang alasannya mau mengamankan. Masyarakat, mahasiswa, dan anak SMA pun jadi korban.

Mikuwah (Muthia Icil Kholil Uswah Wahyu)*

Divisi ini bernama diskusi. Yang menyebabkan divisi ini bernama diskusi, tentu karena divisi ini melakukan kegiatan diskusi. Namun bagaimana jika divisi ini tidak melakukan kegiatan diskusi, apakah namanya masih divisi diskusi? Memang kenapa kita harus berdiskusi? Kenapa kita tidak berdiskusi? Kita punya jawaban masing-masing. Tapi sebenarnya, sejak awal, yang membuat kita bisa berkumpul untuk berdiskusi adalah satu hal yang bernama “ketidakpercayaan”.

Menulis Seperti Berjalan di Lorong yang Gelap

Beberapa hal pernah kutulis, entah hal yang aku ketahui maupun hal yang belum aku ketahui sebelumnya. Entah memang karena ingin menulisnya maupun mencari tahu dulu, baru menulisnya. Atau, menulis apapun saat itu juga ketika ada yang mengajak menulis bareng. Semua bermuara pada kata-kata apa yang aku pilih untuk menyampaikan makna tulisanku.

Sabrina

Sabrina Kepalsuan senyum ceriamu yang mengalihkan kebenaran Rintihan gelak tawamu yang memerdukan tangisan Kau sembunyikan belati yang menancap di hatimu