Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Pertanyaan tentang Tulisan

Apakah tulisan yang bagus itu adalah cerita yang ditulis dengan serius? Seperti apa kriteria tulisan yang bagus itu? Bagaimana jika ada sebuah tulisan yang ditulis dengan tanpa serius sama sekali, tapi itu bagus ketika dibaca? Ya, pada akhirnya tergantung apa yang ia tulis, kan? Bagus atau tidaknya itu tergantung memakai pandangan siapa.

Aku dan Derrida

Aku terbangun di pagi hari lagi, tak ingat mimpi-mpimpi, tapi ingat beberapa kali aku sudah bangun sebelum pagi. Sebelum tidur pun aku masih ingat, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, Cuma memegang gawai, membalas pesan di whatsapp lalu tidur, tanpa menjawab pertanyaan, apa yang harus aku lakukan mala mini.

Jatuh

Digiring ke jurang teori, dibekali mimpi-mimpi Sang anak terdiam memandang gelapnya jurang Kemejanya dirapikan Sepatunya diusap Bukunya ditenteng Ia melangkah, menjatuhkan diri ke lubang Tapi kakinya tersandung batu Ia jatuh, jatuh, dan jatuh

Cerita Tanah dari Kakek Pur

Satu pagi di Desa Tulungrejo, tak banyak orang yang bisa saya lihat di sepanjang jalan. Menurut keterangan ketua RT, desa ini awalnya adalah bekas perumahan pensiunan angkatan udara. Untuk mengetahui lebih jauh tentang sejarah desa ini, saya mencari seorang warga yang mungkin tahu tentang sejarahnya.

Cerita Lain Ibu Pedagang

Malam itu malam yang sebenarnya tak ingin kulalui dengan hal yang merepotkan. Maksudku, jalan-jalan malam, dan ngopi, di sekitar Yogyakarta. Selepas acara, mereka mengajakku, awalnya aku tidak ingin ikut, malas tentunya, tapi aku lupa kenapa tiba-tiba aku ikut. Tempatnya tak jauh, tinggal jalan lurus kea rah timur, lalu sampai, di alun-alun.

Munculnya Benci

Momen itu terulang kembali, rasa benci itu muncul Kebencian yang bersemayam di dalam diriku, entah dimana Agaknya aku terlalu sombong dengan topeng yang aku pakai Dan aku agak lupa akan keberadaan si kebencian

Surat untuk Teman Lama

Ryunosuke berdiri di ujung jembatan sore itu. Ia menatap jembatan yang tak terlalu panjang itu, menatapnya lama-lama. Pandangannya seakan-akan tak mau diganggu oleh angin yang menyapa rambutnya. Ia membawa tas, dan memakai sepatu. Sepertinya ia membolos lagi hari itu. Menurut omongan orang-orang, Ryunosuke adalah anak yang pendiam, tak terlalu pintar, agak aneh, dan sering menanyakan hal-hal yang remeh kepada orang di sekitarnya.

Perspektif

Begitu kita membaca berita, kita mungkin mendapatkan informasi, entah informasi, baik, buruk, biasa. Mungkin juga yang lain. Namun sejauh penafsiran kita terhadap informasi itu, itu hanyalah penafsiran, perspektif saja. Pengaruhnya, biasanya dari pikiran kita atau dari lingkungan. Rasanya ini soal lama, tapi inilah yang hampir selalu terjadi tiap hari.

Kematian Tsalits

Air panas masuk kedalam cangkir putih berisi butiran teh. Tsalits menuangkannya dengan tenang, tanpa ekspresi, seperti biasanya. Diaduknya teh itu sebanyak 20 putaran selama delapan detik. Kemudian ia antarkan teh itu ke bangku nomor 12, ada seorang pria yang sudah duduk menunggu dari sekitar 10 menit yang lalu.

Nilai dan Persaingan

Kapitalisme adalah sistem ekonomi. Kita tahu itu. Pada dasarnya sistem kapitasilme didukung oleh suatu paham yang bernama liberalisme, dimana “kebebasan individu untuk meningkatkan kualitas hidupnya (makan, pakaian, tempat tinggal, hak asasi)” menjadi suatu keniscayaan.

Ibu Pedagang

Aku hinggap di tempat yang pengap Di mana malam begitu indah dengan lampu lampu Dan ramai orang-orang berfoto, bersenang-senang Tapi para pedagang jajanan ketakutan Matanya tajam memperhatikan semua orang yang lewat Pembeli kah? Teman kah? Pamong praja kah?

UAPM Inovasi dan Kritis

Tanggapan untuk esai “Mengapa Jurnalisme Kritis?”
Holil Asy’ari:
Tahun 2002 Dur membawa materi Jurnalisme Presisi dari Jogja. Saat itu pula kita sudah mulai mengenal secara samar apa itu framing, konten dan tentu juga analisis wacana. Puncaknya saat 2003 kami mengundang rekan-rekan Lembaga Pers Mahasiswa se-Kota Malang melakukan pelatihan materi baru itu. Kebetulan kami mendapuk dua pemateri dari Surabaya, satu yang saya ingat bernama Redi Panuju. Bersama Ketapel (Topik de Kiki) kami menghubungi saat narasumber. Ya, saya masih ingat waktu itu bulan Puasa dan si Topik ngajak mokel.

Merjo

Pemandangan pasar merjosari di satu april pagi. Ramai dan panas bercampur dengan bau lapak-lapak yang beragam. Pasar merjosari nampak tak utuh, ada lapak yang runtuh, ada juga beberapa lapak yang tak memiliki atap. Beberapa atap dilapisi terpal, untuk menahan hujan atau sekedar mencegah sinar matahari yang seenaknya sendiri menyambar apa saja yang dijangkaunya. Pasar merjosari tak sedang dibangun, ia sedang dihancurkan.

Orang Baik

Takutlah dengan kebaikan Orang-orang baik tak berbahaya Mereka sarapan dengan baik Olahraga dengan baik Tidur dengan baik Mandi dengan baik Dan kadang, berbohong dengan baik Maka dari itu, takutlah dengan kebaikan

Cerita Sebelum Aksi

Jam 08.34 pagi di balai kota malang. Mentari bersinar, bunga bunga di taman bermekaran. Suasana damai dengan laju motor, mobil, angkot, penjual cilok, mengelilingi balaikota entah berapa kali. Di depan gedung dharma wanita persatuan sekretariat DPRD kota malang. Kami duduk di pinggir jalan, berdua, memandang suasana yang tenang. Ada dua mobil polisi di sebelah kanan kami, dan tiga motor polisi di belakangnya. Polisi berkumpul di bawah pohon beringin, di sebelah kiri kami.

"Kecatatan" dalam Diskusi UAPM Inovasi

Diskusi bisa diartikan sebagai suatu momen yang menyenangkan. Ketika kita mengungkapkan pendapat terhadap satu peristiwa, ketika kita berbicara tentang isi buku yang kita baca. Ada beberapa kepuasan dan tawa di sana. Entah itu dari pendapat yang kita bagi, pengetahuan baru yang kita dapatkan, atau keberhasilan membantah pendapat teman kita. Dan di UAPM Inovasi (lembaga pers mahasiswa), diskusi menjadi sebuah kebiasaan yang harus dipertahankan. Kenapa Harus? Ya karena diskusi itu menyenangkan.

Mengapa (Jurnalisme) Kritis?

Dulu, kakek saya pernah bertanya, “apa bedanya ilmu dengan harta?” Saya tak menjawab, bingung. Firasat saya mengatakan, kakek pasti punya jawaban yang tidak biasa. Dan benar dugaan saya, katanya “kalau harta, yang harus melindungi itu kamu. Tapi ilmu, ilmulah yang akan melindungimu”.

Bukan Puisi

“Maka dari itu, sekolah yang pintar, biar tidak menjadi petani seperti kakekmu ini. Jadi petani itu capek.” Kakek pernah berpesan, dulu sekali. Lantas aku menjawabnya dengan nada sok bijak, “yang penting itu bukan pinter kek, tapi sehat. Kalau aku pintar, aku akan malas menggerakkan tubuh ini, bisa-bisa aku lumpuh, loyo. Dari pada pintar, mending aku jadi petani saja seperti kakek, sehal wal afiat”. Percakapan itu terjadi di tengah sawah yang sore, angin berhembus santai, matahari tak bersinar sombong. Aku lupa bagaimana ekspresi kakek waktu itu.

Buta

Di hari-hari yang polanya tak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, sepertinya orang-orang belum mau untuk mengakui kebutaannya. Mungkin mereka nyaman. Atau berpura-pura nyaman. Setidaknya hal itulah yang –sedikit– saya rasakan, setelah keluar dari rutinitas, berjalan agak jauh ke Masjid, menggerak-gerakkan anggota tubuh selama beberapa menit, lalu kembali ke rutinitas atau menggantinya.

Lihat

“Hiduplah dengan baik dan jadilah orang yang baik” ucap isshin kepada anaknya.
Begitulah kalimat yang diucapkan oleh salah satu karakter anime “Bleach”. Entah siapa nama mangakanya, anime itu saya tonton ketika menganggur di hari libur. Saya juga pernah baca sedikit bukunya Nietzsche. Lalu saya tak menemukan arti mengapa saya menulis tulisan ini.

Apa yang Ada Di Sana?

Hanya di detik-detik ini, pagi memenangkan jalannya. Di saat sepi ini, tak ada bising kendaraan yang mengganggu pemandangan, tak ada gas beracun yang menyelinap di sudut yang nyaman, tak ada ada makian yang hampir tak berhenti. Lampu lalu lintas juga terlihat mempesona, hanya di detik-detik ini.

Sudah terlampau lama aku tak menikmati suasana di detik-detik ini, dan mungkin ini yang terakhir kalinya, karena aku akan pergi.

Runtuhnya Universitas

Universitas. Dari sudut mana pun memandangnya, kita tak bisa mengalihkan pandangan pada gedung-gedung yang besar itu. “Jika orang itu berpendidikan tinggi, maka tinggi pula pengetahuannya, status sosialnya, juga akhlaknya”. Ungkapan seperti itu, hanya soal dari sudut mana kita memandangnya. Tapi, gedung-gedung itu tetaplah besar, tinggi, kokoh. Tak bergeming diterpa badai, tak keropos dimakan waktu.