Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Tamu dari Nazareth

Seorang pria berjalan di bawah sinar matahari, di tanah yang dipenuhi rerumputan. Ia berhenti di sebuah bukit, memandang ke depan, dan ia lihat pedesaan yang tidak terlalu ramai. Jarak antara pedesaan dan dirinya cukup jauh, tapi ia tetap melanjutkan perjalanan menuju perkampungan itu. “Inilah, awal mulanya,” ujarnya padadiri sendiri.

Hari Pertama Kuliah

Catatan ini adalah catatan hari pertama kuliah di semester lima. Hari pertama dari sembilan mata kuliah dalam seminggu terakhir pada agustus 2016. Catatan ini saya tulis untuk menyampaikan pandangan pribadi saya (tanpa harapan untuk dibaca) dalam bentuk catatan. Jika ada alasan lain yang menyebabkan saya menulis catatan ini, mungkin karena saya merasa mendapat pelajaran dari dua semester. Dari pikiran saya sendiri. Pelajaran bahwa “kuliah itu bisa mengecewakan, tapi yang lebih mengecewakan dari kuliah adalah tidak melawan kekecewaan itu dan melakukan hal yang menyenangkan.”

Buku dan Senja (2)

Sudah tiga ronde Luis kalah dalam permainan catur melawan Albert. Albert menantang Luis lagi, ia merasakan kemajuan dari strategi catur Luis, tapi Luis menolaknya. Ia sudah bosan, dan ia berjanji akan mengalahkan Albert di waktu lain. Kemudian mereka melanjutkan bincang-bincang terkait buku yang mereka baca.

Sekolah

Dua tahun yang lalu, saya berkenalan dengan seorang mahaiswa semester 5, berbicara tentang puisi, tulisan majalah, dan Iwan Fals. Juli kemarin kami berbicara lagi di suatu malam, di warung kopi. Tentang kenangan, pilihan dan ketakutan. “Jika kau mencintai sesuatu, misalnya gelas ini,” dia menyodorkan gelas yang sudah tak berisi air. “Kau akan terus memegangnya, atau melepasnya?” Sepertinya dia tak bisa menjelaskan kenangan yang menakutkan di masa lalu. Saya menjawab: melepasnya. Lalu dia mendapatkan pembenaran atas pilihan di masa lalu.

Ke Depan

Aku hidup dalam kesempurnaan. Apapun yang aku inginkan bisa aku wujudkan. Seperti ketika aku menginginkan makanan yang paling aku sukai, dan tiba-tiba makanan itu muncul di hadapanku. Tidak hanya itu, aku bisa mewujudkan hal-hal yang sulit untuk diwujudkan seperti menciptakan bola cahaya dari telapak tanganku. Hidup yang sempurna ini aku sadari ketika aku menlihat sebuah penampakan di ruangan yang putih ini.

Nilai Jelek dan Ketakutan

Salah satu hal yang saya takutkan adalah gagal dalam pendidikan. Saya masih takut dengan nilai-nilai yang bernama ‘nilai jelek’. Saya takut ketika nilai jelek itu lahir dari kemalasan mengikuti pendidikan dan semua kemasukakalannya yang abu-abu itu. Walaupun terkadang di sisi lain saya tidak mempedulikannya. Ketakutan itu ada.

Cantik

Dan kuteguhkan diriku untuk mencari sebuah kecantikan Kecantikan yang menancapkan pijakannya ke bumi ketika badai Kecantikan yang kakinya menari melawan arus deras sungai Kecantikan yang pergi ke dalam kobaran api untuk menyiram setangkai bunga

Gigrantes

Gigrantes adalah sebuah kota tempat para korban perang bernaung. Di sini, orang – orang membentuk identitas baru, tidak berasal dari Negara mana pun, ras mana pun, agama mana pun. Untuk mencegah perang, dan sekedar menciptakan ketenangan. Semua memiliki identitas yang sama. Penderitaan.

Mencuri

Manusia merasa putus asa dan kesal ketika hasil ciptaannya dicuri. Mungkin karena itu manusia menciptakan hukum perlindungan hak cipta, sebagai patokan yang digunakan bersama untuk mencegah pencurian, atau bisa juga untuk menghukum pencuri. Dengan melindungi hasil ciptaannya, manusia akan lebih semangat lagi untuk mencipta. Manusia ingin dihargai oleh manusia lainnya. Dihargai. Apakah itu berupa kata-kata setelah manusia lain melihat, mendengar, merasakan ciptaan itu? Ataukah itu berupa selembaran kertas yang ada angkanya? Apa yang sebenarnya ingin mereka lindungi?

Jam Terbalik

Jarum jam telah kau tancapkan dalam kepalamu
Kau mulai merasakan sakitnya melalui alam pikiranmu
Matamu selalu dalam merah berdarah
Ingatanmu tak pernah berhenti untuk menciptakan benci

Buku dan Senja

Di sebuah warung kopi yang berhadapan dengan sungai, dua pemuda sedang duduk, menikmati senja, sembari menikmati kopi. Dua pemuda itu adalah Luis dan Albert. Mereka berdua memiliki hobi yang sama, yaitu membaca. Mereka bersahabat. Mereka sedang berbicara tentang novel yang mereka baca terakhir kali. “ Kekecewaan ternyata cukup menarik, apa kau percaya itu, Albert?” Luis memulai, “seperti kisah seorang anak yang mencoba bunuh diri hanya karena tidak bisa menerapkan makna dari buku yang dia baca ke dalam perilakunya sehari-hari.”

Nilai

Apa jadinya jika sekolah tidak menggunakan angka-angka sebagai patokan nilai? Akankah murid menjadi bosan memasuki ruang kelas, berdiskusi, atau sekedar mendengarkan ajaran guru, dan pada akhirnya ruangan itu tidak dihuni lagi?
Dalam pemahaman saya, angka adalah sebuah tanda yang menandakan jumlah dan terkadang juga kualitas. Tapi di sekolah, angka itu memiliki sifat. Dari yang bagus sampai yang tidak bagus. Nilai inilah yang menjadi sebuah kepastian bagi murid, sesuatu yang kemudian hari akan menjadi sebuah bukti dan kebanggaan.

Dalam Kehidupan

Hidup memanglah bukan pilihan Pilihan ada karena yang hidup tak ingin mati Yang hidup tak tahu mengapa madu itu manis Yang hidup tiba-tiba menginginkan yang manis Hidup bagi yang bersuara atau  bagi yang diam

Malaikat Kematian

Kota ini selalu berisik. Dari suara klakson kendaraan yang menjengkelkan hingga suara bom para teroris gila yang tak ada matinya. Mengusik telingaku. Namun “yang mengusik” itu terkadang berubah menjadi sebuah kebosanan. Orang-orang adu mulut di jalan, gedung-gedung hancur tiba-tiba, teroris membawa pesan kematian, korban meninggal, tim penyelamat datang. Mereka selalu memainkan peranannya. Tak ada akhirnya. Tapi tak apa, ada satu hal yang bisa mengakhiri kebosanan ini. Pastinya bukan mereka, para pahlawan yang repot-repot melindungi orang-orang dengan alasan keadilan dan perdamaian. Tapi semuanya akan diakhiri oleh aku. Mungkin lebih tepatnya aku sudah merencanakan akhir untuk kebosanan ini. Sebuah akhir yang hanya aku yang menginginkannya. Aku, malaikat kematian.

Asing

Negara ini belum merdeka, selama orang orang di dalamnya belum bisa menguasai sumber daya alam di dalamnya. Karena kekayaan sumber daya alam di Negara ini masih di kelola orang asing (orang orang dari Negara lain). Pemerintah mengizinkan – mungkin juga menginginkan – kehadiran orang  asing itu.

Hujan di pagi hari

Pagi ini aku terbangun. Membuka mata, menatap jendela yang tak begitu terang. Terdengar suara rintik hujan, seraya berkata tidurlah lagi, ini adalah waktuku. “Oh, Tuhan, kenapa Kau ciptakan hujan di hari ini?” keluhku kepada Tuhan. Namun tiada jawaban dari Tuhan. Apakah aku tak mendengarnya? Apakah Tuhan tak mendengar-Nya? Lalu kutanya kepada hujan. Hujan menjawab. Entahlah.

Demokrasi (Bukan) Pancasila

Demokrasi hadir demi keadilan, kesejahteraan, kebebasan berpendapat, dan kritik. Lantas kenapa Indonesia memilih demokrasi? Saya tidak tahu. Saya hanya bisa mengira-ngira. Mungkin dulu Indonesia memilih demokrasi karena kehadiranmencapai cita-cita bangsa. Mungkin. Namun roda sejarah terus berputar, demokrasi pun ikut, berproses, berubah bersamanya.

Menulis

Dulu aku ingin menjadi penulis Sekarangpun masih begitu Dulu aku ingin banyak membaca buku Sekarang aku sudah membaca beberapa buku Dulu aku sering menulis Tapi sekarang tidak begitu