Langsung ke konten utama

Nilai Jelek dan Ketakutan



Salah satu hal yang saya takutkan adalah gagal dalam pendidikan. Saya masih takut dengan nilai-nilai yang bernama ‘nilai jelek’. Saya takut ketika nilai jelek itu lahir dari kemalasan mengikuti pendidikan dan semua kemasukakalannya yang abu-abu itu. Walaupun terkadang di sisi lain saya tidak mempedulikannya. Ketakutan itu ada.
 
Ketika saya mencoba memahami ketakutan itu, saya membayangkan saat saya tertawa bersama ketakutan itu dan orang lain di hadapan saya ikut tertawa. Saya juga membayangkan ketika memecahkan cermin dengan dahi, atau sekedar mengepalkan angan dengan wajah tanpa ekspresi. Dan saya pernah bersedih bahkan mengalirkan air mata bersama ketakutan. Andai saya bisa berbicara dengan ketakutan itu saya akan bertanya siapa namanya.

Memang ketakutan itu akan mereda ketika kita lampiaskan dengan cara yang kreatif setiap individu. Atau mencoba memahami ketakutan individu lain yang lebih menakutkan. Berharap akan tersadar, lalu melambaikan bendera putih yang kotor setinggi dada. Yang paling manjur tentu adalah meminum air putih dengan bubuk kematian. Ketakutan itu tidak hanya reda saja, tapi hilang, hilang bersama dengan nama ketakutan itu sendiri.

Pada awalnya adalah sebuah kehendak yang menuntun keinginan ke dalam ketiadaan alasan. Saya mencoba menemukan sebuah buku yang terjatuh di antara logika dunia yang mengatakan “ketika manusia mengenal keberanian, maka ketakutan akan muncul menyapa.” Sebuah buku yang tidak memiliki judul dan daftar isi, hanya ada tulisan-tulisan per bab saja. Saya telah menemukan buku itu, tapi bukunya hanya menampakkan tulisannya pada orang-orang yang ingin mencarinya tanpa alasan saja. Buku itu memiliki hawa keberadaan yang berubah-ubah.

Apa yang terbaik sekarang adalah tidak memikirkan apa yang terbaik. Jika saya mengenal ketakutan itu sebagai hal yang tidak saya inginkan, maka yang terbaik adalah tidak pernah mencoba mengenalnya dengan keinginan diri sendiri. Jika ketakutan itu serius ingin menghancurkan saya, maka saya akan bermain dengannya. Mungkin yang terbaik adalah tetap takut dan tetap berani di waktu yang sama.

Namun itu hanya jika terjadi pada diri sendiri. Berbeda lagi ketika ketakutan itu berasal dari individu yang lain. Individu yang menggenggam erat pikiran kita tanpa merasakan kalau genggaman itu mengendor karena individu itu tidak berani mengakui ketakutannya. Yang ditakutkan individu itu berbeda dengan apa yang saya takutkan.

Pendidikan, bagaimanapun saya paham bahwa individu lain memandangnya dengan sederhana, saya telah melihat banyak kemasukakalan yang lain. Kenyataan bahwa saya menemukan buku itu dengan keberanian dan ketakutan yang sama, tidak bisa meyakinkan saya untuk terus terbawa arus kemasukakalan pendidikan.

Nilai jelek yang menakutkan itu, benar-benar mengalahkanku dalam permainannya. Nilai jelek adalah sebuah ketakutan tanpa nama, yang membuat individu lain untuk tidak memiliki keinginan untuk mengetahui namanya.

Namun, apakah nilai jelek itu akan kalah ketika individu lain mengetahui nama dari ketakutan? Sepertinya saya ingin mengatakan bahwa individu yang manusia itu adalah makhluk yang menyejarah, walaupun dengan keterbatasan kemampuan pikiran saya untuk mengimajinasikannya. Seperti yang ditulis oleh manusia Brazil bernama Paulo Freire itu. Dengan menjadi makhluk yang menyejarah, maka yang hakiki sebagai manusia adalah menjadi manusiawi. Singkatnya terus mengembangkan kemampuan tanpa menindas yang manusia yang lain. Dan sepertinya juga berjalan bersama keberanian dan ketakutan.

Tentu saya mengetahui manusia bernama Paulo Freire dari sebuah halaman di buku tanpa judul itu.
Saya masih belum bisa menyimpulkan sesuatu akan harus bagaimanakah menghadapi nilai jelek bersama ketakutan tanpa nama itu. Sekarang saya masih ragu. Jika di sejarah yang nanti nilai jelek dan ketakutan tanpa nama itu hilang dari diri saya dan dari diri individu lain, maka saya akan mencarinya lagi. Karena mungkin saya akan merasa kesepian tanpa ketakutan yang membuat saya marah, tertawa, dan sedih itu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnalisme Kritis dan Outline?*

Sebuah pengantar

Perlu diketahui kalau jurnalisme kritis itu bukanlah sebuah genre jurnalisme. Ia hanyalah perpaduan antara jurnalisme dengan teori kritis dari aliran filsafat mazhab kritis (Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas). Mahzab ini sering dibandingkan atau dilawankan dengan yang namanya aliran positivis (Emile Durkheim, Max Weber, Auguste Comte). Kalau kita belajar filsafat mazhab kritis, kita akan tahu bahwa perbandingan antara positivis dan kritis ini mengacu pada penolakan para pemikir di mazhab kritis terhadap filsafat/ilmu positivis. Kenapa ditolak? Bagi pemikir mazhab kritis, ilmu positivis telah gagal membawa kesejahteraan kepada manusia.

Mengapa (Jurnalisme) Kritis?

Dulu, kakek saya pernah bertanya, “apa bedanya ilmu dengan harta?” Saya tak menjawab, bingung. Firasat saya mengatakan, kakek pasti punya jawaban yang tidak biasa. Dan benar dugaan saya, katanya “kalau harta, yang harus melindungi itu kamu. Tapi ilmu, ilmulah yang akan melindungimu”.

Aku Gila

Apa hanya mataku bisa melihat ini? Bahwa selama ini mataku dan mata teman-temanku telah dijejali kacamata kepalsuan Ketika aku dan teman-temanku sedang menyirami pikiran yang segar, ternyata kami sedang menyiraminya dengan racun dan racun itu di bungkus oleh buku pelajaran