Langsung ke konten utama

Aku dan Derrida


Aku terbangun di pagi hari lagi, tak ingat mimpi-mpimpi, tapi ingat beberapa kali aku sudah bangun sebelum pagi. Sebelum tidur pun aku masih ingat, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan, Cuma memegang gawai, membalas pesan di whatsapp lalu tidur, tanpa menjawab pertanyaan, apa yang harus aku lakukan mala mini.

Nampaknya aku telah menjadi sleepy ash, begitu yang aku pikirkan ketika bangun. Tapi, sepertinya aku dikelilingi rasa takut, karena tugas-tugas yang hars kulakukan, bukan dari keinginanku sendiri, bahkan kalau itu adalah yang ak inginkan, aku tetap masih takut. Apakah ini gara-gara aku membaca Derrida? Aku menolak melakukan hal yang tidak/aku inginkan? Mencegah totalitas dan penunggalan makna, dan juga tindakan. Ahh, aku masih bingung saja.

Laporan, tugas kuliah, tugas menulis, menulis untuk diri sendiri, mencari recehan, setidakna itu saja yang aku pikirkan. Membuatku takut dan agak bingung juga. Lalu bagaimana kan? Aku menyalakan rokok lalu menghisapnya, walaupun aku tahu, aku sudah berjanji untuk tak merokok lagi, beberapa orang mencegahku, beberapa orang mempertanyakanku, satu orang yang lemah yang aku ingat. Mereka ini kenapa? Peduli? Aku tak membutuhkannya. Begitu kata diriku yang jahat. 

Jadinya aku teringat akan satu solusi, bunuh diri. Tapi kaca mata Derrida sepertinya tak ingin lepas. Aku merasa masih harus menyelesaikan hal-hal yang belum selesai, memahami sesuatu lalu mengunah keadaan. Ada satu keinginan untuk mempengaruhi masyarakat supaya mereka bisa terbuka, merasa butuh akan informasi, peka terhadap akses, mau dan mapu melakukan sesuatu yang mereka anggap agak susah dan tak mungkin.

Aku juga bergitu, tapi masih dalam proses, mengatur pikiran, untuk berhenti merokok dengan mencari suasana baru, entah dimanapun itu, di internet, bahkan di masa lalu. Sebenarnya aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan, tapi aku selalu menolak untuk merasa tahu? Tapi benarkah seperti itu yang aku rasakan? Tambah pusing saja kan, kalau ini dibaca?

Telalu banyak hal aku pamami, terlalu banyak hal yang aku dapatkan, meskipun itu hanya satu atau dua atau tiga. Tapi terlalu banyak juga aku kehilangan mereka, bahkan kehilangan hal yang tak pernah kudapatkan. Nah, jika nilai manusia dilihat dari tindakan atas dasar kehendak manusia sendiri, aku ingin tahu, kira-kira apa yangdikatakan oleh Makishima. Akankan ada kata yang ingin ia katakana? Akankan ia mengajakku berbincang-bincang, atau mengajakku bermain, atau membunuhku? Membosankan.

Mungkin beginilah susahnya menjadi raja keputusasaan, harapan itu ada, begitu juga dengan kebahagiaan, semangat, tujuan, dan ketika mereka mati, yang mereka lupakan adalah aku. Raja keputusasaan.

Sekarang, bagaimana aku akan berjalan?

Mungkin seperti ini, apapun yang ada nanti, entah itu harapan atau keputusasaan, aku harus bisa menghadapinya. Dan sepertinya tulisan ini semakin tahu apa yang ingin aku tulis? Ya, aku akan menulis, setelah itu apa? Mengapa? Apakah memang harus seperti itu.
Derrida pernah menggambarkan seorang pemain teater, tapi ia tak bergerak, ia tak bersuara, hanya diam, hanya bisa dilihat dari diamnya dan hanya bisa dipahami dari tulisannya. Derrida adalah detektif makna yang tak ingin mendapatkan makna, yang terus mencari walaupun jawaban sudah ia temukan. Ia ahanya mempermainkan makna dengan kata-kata, entah seperti apa masa kecilnya yang bisa membuatnya jadi seperti itu.

Bahkan kehendak, yang digaungkan oleh sang nihilis, pun, menjadi sebuah metafisika. Kehendak yang telah membunuh tuhan, menolak kepercayaan terhadap isme-isme manapun. Tapi aku belum membaca bagaimana Derrida menghatam kenendak itu dengan dekonstruksi. Dan mungkin, ketika sudah menjadi popular nanti, dekonstruksi adalah kata yang paling totaliter. Ia tak ingin didefinisikan, karena ia menolak sebuah definisi, konstruk, karena akan memiliki ujung yang tunggal dalam pemaknaannya.

Dan sepertinya si nihilis akan bertanya lagi, tapi siapa Derrida? Atas dasar apa ia mengatakan kalau dekonstruksi adalah kata yang terlepas, dan tak boleh didefinisikan? Bukankah ketika ia membicarakan tentang dekonsruksi, ketika itu pula ia sudah terlambat? Terlambat menyampaikan kehendaknya akan dekonstruksi? Sepertinya ia harus memahami lagi, kalau filsafat, definisi, kata adalah sebuah bentuk identifikasi dari hal-hal yang tidak identik. Mungkin kehendak Derrida adalah mencari kepingan kepingan makna dari totalitas dan dikotomi yang telah ia hantam dengan keras, dengan dekonstruksi.

Sementara kehendakku adalah mengatakan iya kepada kehidupan, terhadap benar dan salah, sehat dan sakit, dan dikotomi-dikotomi lainnya. Hmm, lalu? Aku ulang ya, aku belum pernah membaca tulisan yang mendebatkan Derrida dan Nietzsche, jadi kata-kata diatas hanyalah ilusi. Jika boleh dikatakan hasil dari ilusi itu, tetaplah sebuah ilusi lain, yaitu, ketika Derrida dan Nietzsche berteman. Sepertinya menarik kalau membuat satu tuisan, esai, cerpen, drama, atau parodi tentang mereka.

Nah, aku sudah lama hilang ketika menulis tebtang mereka, ketakutan itu sedikit terabaikan, dan sebentar lagi sepertinya aku akan memakai topeng yang sudah lusuh itu. Topeng, ya topeng, nihilis, sleepy ash, raja keputusasaan, ketakutan.

Dan ada satu topeng yang sudah lama tidak akau pakai, sudah sejak aku pergi dari tempat itu. Namanya topeng iman. Pada akhirnya, jika memang bisa disebut sebagai akhir, tak ada yang tahu sejauh mana kebenaran dari tulisan ini. Kenapa aku mengakhirinya seperti ini? Bagaimana jika ternyata ada akhir atau makna lain yang ingin akau sampaikan? Apakah aku benar benar aku? Apakah aku benar-benar ingin menulis ini? Ahh....berhentilah...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnalisme Kritis dan Outline?*

Sebuah pengantar

Perlu diketahui kalau jurnalisme kritis itu bukanlah sebuah genre jurnalisme. Ia hanyalah perpaduan antara jurnalisme dengan teori kritis dari aliran filsafat mazhab kritis (Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas). Mahzab ini sering dibandingkan atau dilawankan dengan yang namanya aliran positivis (Emile Durkheim, Max Weber, Auguste Comte). Kalau kita belajar filsafat mazhab kritis, kita akan tahu bahwa perbandingan antara positivis dan kritis ini mengacu pada penolakan para pemikir di mazhab kritis terhadap filsafat/ilmu positivis. Kenapa ditolak? Bagi pemikir mazhab kritis, ilmu positivis telah gagal membawa kesejahteraan kepada manusia.

Mengapa (Jurnalisme) Kritis?

Dulu, kakek saya pernah bertanya, “apa bedanya ilmu dengan harta?” Saya tak menjawab, bingung. Firasat saya mengatakan, kakek pasti punya jawaban yang tidak biasa. Dan benar dugaan saya, katanya “kalau harta, yang harus melindungi itu kamu. Tapi ilmu, ilmulah yang akan melindungimu”.

Buku dan Senja (2)

Sudah tiga ronde Luis kalah dalam permainan catur melawan Albert. Albert menantang Luis lagi, ia merasakan kemajuan dari strategi catur Luis, tapi Luis menolaknya. Ia sudah bosan, dan ia berjanji akan mengalahkan Albert di waktu lain. Kemudian mereka melanjutkan bincang-bincang terkait buku yang mereka baca.