Langsung ke konten utama

Jatuh



Digiring ke jurang teori, dibekali mimpi-mimpi
Sang anak terdiam memandang gelapnya jurang
Kemejanya dirapikan
Sepatunya diusap
Bukunya ditenteng
Ia melangkah, menjatuhkan diri ke lubang
Tapi kakinya tersandung batu
Ia jatuh, jatuh, dan jatuh

Sambil jatuh, ia membiasakan diri
Dilihatnya baik-baik kegelapan itu
Terus dilihat, sampai ke ngarainya
Ia lirik juga tempat ia terjatuh
Cahayanya semakin kecil dan kecil

Ia segera membuka bukunya
Tapi bukunya tidak ada
Ia raba-raba kemejanya
Tapi kemejanya juga tidak ada
Ia remas kepalanya
Tapi kepalanya tidak ada

Ia tidak merasa jatuh lagi
Hanya ada gelap

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnalisme Kritis dan Outline?*

Sebuah pengantar

Perlu diketahui kalau jurnalisme kritis itu bukanlah sebuah genre jurnalisme. Ia hanyalah perpaduan antara jurnalisme dengan teori kritis dari aliran filsafat mazhab kritis (Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas). Mahzab ini sering dibandingkan atau dilawankan dengan yang namanya aliran positivis (Emile Durkheim, Max Weber, Auguste Comte). Kalau kita belajar filsafat mazhab kritis, kita akan tahu bahwa perbandingan antara positivis dan kritis ini mengacu pada penolakan para pemikir di mazhab kritis terhadap filsafat/ilmu positivis. Kenapa ditolak? Bagi pemikir mazhab kritis, ilmu positivis telah gagal membawa kesejahteraan kepada manusia.

Mengapa (Jurnalisme) Kritis?

Dulu, kakek saya pernah bertanya, “apa bedanya ilmu dengan harta?” Saya tak menjawab, bingung. Firasat saya mengatakan, kakek pasti punya jawaban yang tidak biasa. Dan benar dugaan saya, katanya “kalau harta, yang harus melindungi itu kamu. Tapi ilmu, ilmulah yang akan melindungimu”.

Buku dan Senja (2)

Sudah tiga ronde Luis kalah dalam permainan catur melawan Albert. Albert menantang Luis lagi, ia merasakan kemajuan dari strategi catur Luis, tapi Luis menolaknya. Ia sudah bosan, dan ia berjanji akan mengalahkan Albert di waktu lain. Kemudian mereka melanjutkan bincang-bincang terkait buku yang mereka baca.