Langsung ke konten utama

Aku Gila

Apa hanya mataku bisa melihat ini?
Bahwa selama ini mataku dan mata teman-temanku telah dijejali kacamata kepalsuan
Ketika aku dan teman-temanku sedang menyirami pikiran yang segar, ternyata kami sedang menyiraminya dengan racun dan racun itu di bungkus oleh buku pelajaran

Apa teman-temanku yang sudah gila?
Mereka dikendalikan oleh narkoba, yang merangsang otak mereka agar merasa cerdas dengan mampu membaca bahasa lain tanpa tahu esensinya
Mereka di gerakan oleh roda berlebel pendidikan agar mereka terus bergerak walaupun lelah, terus membaca tanpa berpikir, terus mengeluarkan uang untuk penbodohan, terus berjuang dengan kesadaran palsu, terus berprestasi dengan hadiah narkoba jenis lain, dan terus berpesta dengan menganiaya alam
Mereka digiring ke dalam surga yang bagiku adalah neraka, mereka adalah pembunuh pendidikan, penghina pahlawan pendidikan dan penghancur masa depan pendidikan

Ternyata aku yang gila
Aku tidak tahu kenapa aku bisa melihat ini, aku merasa waras dan nuranilah yang telah menyembuhkanku, tapi nurani itu terasa gila, dan aku merasa memang seharusnya aku gila
Aku ingin terus berada dalam kegilaan yang menyembuhkanku tapi nyata, daripada dijejali narkoba yang mencerdaskan otak tapi palsu
Terkutuklah jiwaku, jika aku sudah gila dan masih menari dan tertawa bahagia bersama teman-temanku di dalam neraka itu

Aku semakin gila
Aku melihat mereka memakan makanan yang lebih buruk dari makanan haram yaitu makanan produk dari kesadaran palsu
Aku mendengar mereka berdoa kepada Tuhan, mereka memohon keselamatan walaupun mereka adalah pembunuh, mereka bersyukur atas pencapaian kepalsuan tingkat tinggi
Doa mereka telah menyiksa kegilaanku

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnalisme Kritis dan Outline?*

Sebuah pengantar

Perlu diketahui kalau jurnalisme kritis itu bukanlah sebuah genre jurnalisme. Ia hanyalah perpaduan antara jurnalisme dengan teori kritis dari aliran filsafat mazhab kritis (Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas). Mahzab ini sering dibandingkan atau dilawankan dengan yang namanya aliran positivis (Emile Durkheim, Max Weber, Auguste Comte). Kalau kita belajar filsafat mazhab kritis, kita akan tahu bahwa perbandingan antara positivis dan kritis ini mengacu pada penolakan para pemikir di mazhab kritis terhadap filsafat/ilmu positivis. Kenapa ditolak? Bagi pemikir mazhab kritis, ilmu positivis telah gagal membawa kesejahteraan kepada manusia.

Mengapa (Jurnalisme) Kritis?

Dulu, kakek saya pernah bertanya, “apa bedanya ilmu dengan harta?” Saya tak menjawab, bingung. Firasat saya mengatakan, kakek pasti punya jawaban yang tidak biasa. Dan benar dugaan saya, katanya “kalau harta, yang harus melindungi itu kamu. Tapi ilmu, ilmulah yang akan melindungimu”.