Langsung ke konten utama

Tamu dari Nazareth

Seorang pria berjalan di bawah sinar matahari, di tanah yang dipenuhi rerumputan. Ia berhenti di sebuah bukit, memandang ke depan, dan ia lihat pedesaan yang tidak terlalu ramai. Jarak antara pedesaan dan dirinya cukup jauh, tapi ia tetap melanjutkan perjalanan menuju perkampungan itu. “Inilah, awal mulanya,” ujarnya padadiri sendiri.


Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan seorang petani. “Mau kemana kau, anak muda? Sepertinya kau bukan orang desa Kukurin,” tanya si petani.

“Anda benar, pak tua, aku mau ke desa tempat tinggal anda, apakah anda mau pulang ke desa di depan sana?” ujar pria itu sambil menunjuk ke arah depan. Si petani memandang arah yang ditunjuk oleh pria itu, tapi ia memasang wajah kebingungan. “Apa maksudmu, anak muda? Aku tidak pernah tahu kalau di depan ada desa, desa kukurin, desaku, ada di arah sana,” ucapnya sambi menunjuk arah belakang pria itu.

Pria itu merasa heran setelah mengetahui bahwa desa yang dilewati sebelumnya adalah desa si petani. “Apa? Lalu, apa yang anda lakukan di sini?” tanya pria itu. “Aku sedang mencari obat untuk menyembuhkan penyakit anakku, anakku sakit batuk, sudah empat hari belum sembuh, dan aku sudah mendapatkannya, sekarang aku mau pulang. Apa kau masih akan melanjutkan perjalananmu, anak muda, memang ada gerangan apa kau pergi ke desa itu?” ujar si petani.

“Sebenarnya aku ingin mengunjungi setiap daerah di neggeri ini, aku ingin berkelana sambil berbagi kebaikan,”.

“Oh, jadi kau adalah seorang pengelana, baiklah anak muda, lanjutkanlah perjalananmu, dan aku akan melanjutkan perjalananmu,” si petani hendak pergi.

“Baiklah, terimakasih, oh iya, aku sebelumnya melewati desa yang kau sebutkan tadi, tapi aku tidak melihat ada orang-orang di sana, apakah ada kebiasaan di desa anda yang tidak aku ketahui?”

Si petani tertawa,” tidak ada kebiasaan apapun anak muda, keluargakulah satu-satunya yang ada di sana. Aku adalah petani. Kami baru pindah dari tempat yang gersang, kami baru tiba kemarin sore, jika kau melewati desa itu di pagi atau sore hari, mungkin karena alasan itulah kau tidak melihat orang-orang atau kami”.

“Oh, jadi seperti itu. Baiklah bapak petani, aku akan melanjutkan perjalananku, maaf jika aku mengganggu waktumu”.

“Tidak apa-apa, anak muda, lagi pula pertemuan kita hanyalah kebetulan saja, jadi tidak ada yang salah.”

“Mungkin anda benar bapak petani, tapi aku yakin bahwa pertemuan ini sudah direncanakan oleh Tuhan, pasti ada suatu kebaikan dari sebuah pertemuan ini, baiklah, aku pergi dulu, semoga anakmu cepat sembuh, dan semoga kita bisa berjumpa lagi”.

Si petani terdiam, lalu berkata, “iya, anak muda, terimakasih.”

Mereka berpisah, menempuh jalan masing-masing.

Pria yang melanjutkan perjalanannya itu sampailah di desa yang dilihatnya dari atas bukit sebelumnya. Desa itu nampak ramai dengan orang-orang, tapi semua orang di desa itu sibuk dengan kegiatan yang dilakukan di sekitar rumahnya masing-masing. Tidak ada orang yang berlalu-lalang di jalan, anak-anak juga hanya bermain di sekitar rumah. Krtika pria itu berjalan melewati rumah-rumah itu, semua orang, dalam waktu empat detik memandang pria itu. Setelah empat detik, orang-oarang kembali ke kegiatannya masing-masing. Tapi ada juga yang masih memandangi pria itu. Ada empat orang, mereka duduk di depan rumah, bermain kartu.

Salah satu dari mereka yang rambutnya gondrong dan sedang menghisap rokok, bertanya kepada yang lainnya. “Tinggal berapa lama lagi?”

“60 menit sebelum matahari tenggelam, apakah kau akan menyelamatkannya? Tuan yang baik hati,” jawab orang yang memakai kacamata, diantara yang lainnya, hanya dia yang tidak terlalu memperhatikan pria itu.

“Tapi bukankah akan menarik jika kita tahu apa yang menyebabkannya datang kemari?” seseorang dengan rambut tertarik ke belakang dengan anting di telinga kirinya ikut ambil suara, “yah, walaupun, si prajuruit tidak akan peduli, bukan begitu, prajurit?” orang itu menyindir orang berbadan kekar yang dari tadi hanya fokus dengan kartu yang dipegangny. Dan dia tak menanggapi sindiran orang dengan anting di telinga kiri.

“Dasar, kalian memang tidak pernah berubah, aku berhenti, kalian lanjutkan sendiri,” orang dengan rambut gondrong itu berhenti bermain kartu, tapi yang lain tidak terlalu menghawatirkannya. Orang dengan itu memandangi pria itu lalu berkata, “Hei, kau yang berdiri di sana, apa kau bisa ke sini?”

Tanpa berpikir panjang pria itu berjalan menuju empat orang itu. “Maaf tuan, aku sedang berkelana, dalam perjalananku aku ingin membagikan kebaikan, aku melakukan ini karena aku yakin bahwa aku mendapatkan pesan dari Tuhan untuk membagikan kebaikan, dan hanya dengan kebaikan itulah kita semua akan diselamatkan dari segala kesengsaraan di dunia ini,” ucapan pria itu mengejutkan pria berkacamata dan tiga orang lainnya yeng sedang bermain kartu, permainan berhenti sejenak.

“Oohhh...” ucap orang dengan anting di telinga kiri. Sementara yang lainnya diam.

“Jadi dari mana kau berasal?” tanya orang berambut gondrong.

“Aku berasal dari Nazareth” jawab pria itu.

“Nazaret...” orang berambut gondrong mencoba mengingat sesuatu. Sementara yang lainnya kembali melanjutkan permainan, orang dengan anting di telinga kiri tersenyum tipis, dua orang lainnya terdiam. Dan setelah orang berambut gondrong berhasil mengingat sesuatu, dia berkata, “Aku mengerti sekarang, tapi pria muda, kau masih muda, kau masih perlu belajar banyak sebelum melakukan sesuatu, kebaikan misalnya. Kenapa aku berbicara seperti ini karena, kami, di sebuah ruang yang disebut desa ini telah belajar banyak hal dari kehidupan ini, dan kami yakin bahwa untuk hidup kita hanya harus berusaha percaya kepada diri sendiri, bukan satu hal yang diluar kita,” ucapan panjang lebar orang berambut gondrong itu mengejutkan pria itu.

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, tuan. Tapi, tuan bilang aku harus belajar banyak, apakah maksud tuan, tuan menolak kebaikan yang ingin aku berikan?”

“Singkatnya, iya”.

“Apakah tuan-tuan ini tidak takut dengan segala kesengsaraan di dunia ini?”

“Jika tidak, memang kenapa?” tanya orang berkacamata sambil meletakkan kartunya, tanda kalau dia berhenti bermain, sementara dua lainnya tetap bermain, “Kau tidak bisa memberikan roti kepada orang yang tidak membutuhkannya”.

“Baiklah, jika demikian, aku tidak akan memaksa kalian, jika kalian memang tidak takut dengan kesengsaraan di dunia ini, mungkin ini hanyalah sebuah rencana Tuhan untuk menguji perjalananku, dan suatu hari nanti kalian akan sadar dengan kekuasaan Tuhan yang sesugguhnya.”

“Pelajaran pertama untuk para pengelana, jika kau tidak memahami sebuah budaya, maka pahamilah dahulu, lalu kau bisa mengambil kesimpulan, kau setuju atau tidak” sahut orang dengan anting di telinga kiri yang masih bermain dengan orang yang dipanggilnya prajurit.

Pria itu sedikit tertekan dan bingung, “sebenarnya, siapa kalian?”

Orang berambut gondrong menjawab, “Kami sama sepertimu, pengelana, tapi dengan jarak tempuh dan waktu yang jauh dari batas-batas pikiranmu. Kami telah melewati banyak kesengswaraan di dunia ini, setiap pemberhentian adalah kesengsaraan yang baru, kami sudah berusaha untuk keluar dari siklus ini dengan cara apapun, kami sudah berbuat baik, kami sudah menyembah banyak Tuhan, tapi siklus tetap berlanjut tak berhenti.”

“Awalnya kami memang putus asa dengan kehidupan ini, tapi bukan karena keputusasaan itu kami menolak kebaikanmu, ataupun Tuhanmu. Tapi kami memiliki pandangan bahwa memang seperti inilah hidup, ada kebaikan ada keburukan, ada kebahagiaan ada kesengsaraan. Pada umumnya manusia memiliki kekuatan untuk merubah kehidupan, tapi kami tidak berdiri di posisi yang sama. Dan yang bisa kami lakukan hanyalah bertahan saja”.

Pria itu terdiam, untuk beberapa saat dia kesulitan mencari kata yang tepat untuk diucapkan, sampai muncul kata-kata, “mungkin aku terlalu awal untuk datang, tapi...”

“Tidak, kau tidak datang terlalu awal, memang tidak ada awal dan akhir di sini,” ucap si prajurit yang dari tadi diam.

“Astaga..aku semkin tidak mengerti apa yang kalian katakan”

“jika kau ingin mengerti atau tidak, itu masalahmu. Jika kau tidak ingin memilih, maka yang kau perlukan hanyalah tidur.” ‘Deggh’ tiba-tiba ada yang memukul leher pria itu dari belakang, lalu pria itu pingsan. Dan ternyata orang yang memukulnya adalah si prajurit. Ia bergerak dengan cepat ke belakang pria itu lalu langsung memukulnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnalisme Kritis dan Outline?*

Sebuah pengantar

Perlu diketahui kalau jurnalisme kritis itu bukanlah sebuah genre jurnalisme. Ia hanyalah perpaduan antara jurnalisme dengan teori kritis dari aliran filsafat mazhab kritis (Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas). Mahzab ini sering dibandingkan atau dilawankan dengan yang namanya aliran positivis (Emile Durkheim, Max Weber, Auguste Comte). Kalau kita belajar filsafat mazhab kritis, kita akan tahu bahwa perbandingan antara positivis dan kritis ini mengacu pada penolakan para pemikir di mazhab kritis terhadap filsafat/ilmu positivis. Kenapa ditolak? Bagi pemikir mazhab kritis, ilmu positivis telah gagal membawa kesejahteraan kepada manusia.

Mengapa (Jurnalisme) Kritis?

Dulu, kakek saya pernah bertanya, “apa bedanya ilmu dengan harta?” Saya tak menjawab, bingung. Firasat saya mengatakan, kakek pasti punya jawaban yang tidak biasa. Dan benar dugaan saya, katanya “kalau harta, yang harus melindungi itu kamu. Tapi ilmu, ilmulah yang akan melindungimu”.

Buku dan Senja (2)

Sudah tiga ronde Luis kalah dalam permainan catur melawan Albert. Albert menantang Luis lagi, ia merasakan kemajuan dari strategi catur Luis, tapi Luis menolaknya. Ia sudah bosan, dan ia berjanji akan mengalahkan Albert di waktu lain. Kemudian mereka melanjutkan bincang-bincang terkait buku yang mereka baca.