Langsung ke konten utama

Aku Pernah Menulis


Aku pernah menulis, kondisi teman-temanku yang kurang bergairah untuk menulis adalah tantangan tersendiri bagiku untuk membuat mereka menjadi (stidaknya) tertarik untuk menulis. Ya, dan tantangan itu sedang kujalani sekarang. Dan, ternyata susahnya minta ampun. Jatuh bangun semangatku dan tergores-gores batinku ketika membangun dasar pondasi iklim tulis-menulis.

Di waktu yang sama aku dihantam oleh keadaan teman-teman kadang malas, kadang tak menanggapi, bahkan kadang memakiku. Jungkir balik aku menggunakan berbagai cara untuk mengajak mereka menulis. Terpontang-panting kusediakan waktuku untuk berbagi tips menulis. Kuotak-atik pikiran dan ucapanku supaya sesuai dengan gaya bicara mereka. Yah, agak alay sih.tapi ya gitu, susah. Ampun deh.

Awalnya kususun konsep dasar pondasi tulis menulis. Apa yang harus ditekankan, tentang verifikasi dan kedalaman, bagaimana memahami peristiwa, bagaimana menguji data, mencari data yang relevan, berkomunikasi dengan narasumber, menyusun pertanyaan, serta menuliskan argumentasi yang kuat.

Lalu kujadwalkan waktu yang efektif untuk mewujudkan iklim tulis menulis. Seminggu sekali rapat redaksi, seminggu sekali diskusi isu, seminggu sekali latihan menulis. Sore-malam berkumpul membahas tema apa yang mau ditulis serta memperdalamnya, ngopi disertai pembicaraan tentang tulisan. Hmm…apalagi ya. Kemauan untuk komunikasi yang intens dan menanamkan kepercayaan dengan sedikit motivasi, mungkin.

Lalu apa yang terjadi? Yaa, yang terjadi masih aku yang sering sibuk dengan waktuku sendiri untuk menulis. Karena pas diajak itu yang datang sedikit atau gak ada yang datang sendiri, ya jadinya aku yang belajar sendiri. Bolak-balik liputan, wawancara, gali data, transkrip wawancara, sampai menulis. Semua sendiri.

Nah, di saat seperti itu aku sempat berhenti agak lama, menghela nafas dan minum kopi, sambil berpikir. Kira-kira apa yang salah sih? Apa yang kurang? Benarkah ini masalah kemauan saja? Tidak juga, ada beberapa dari temanku yang punya masalah pribadi di luar tulis-menulis. Jadi tak bisa kusimpulkan ini masalah kemauan saja. Lalu bagaimana? Apa ini soal caranya mengajak dan menarik perhatian untuk menulis?

Ya, kadang aku berpikir sudah melakukan semua itu, tapi tetap saja, susah. Lalu aku sadar aku terlalu lama menggunakan waktu untuk memikirkan semua ini, semua hal yang kuanggap ada kesalahan-kesalahan. Kemudian aku menyia-nyiakan waktuku sendiri untuk menulis.

Apa yang awalnya aku inginkan untuk membangun iklim tulis menulis malah menjadi bom waktu bagiku untuk terus menundaku menulis. Hmm…susah ya. Jadi apakah aku harus terus menulis saja tanpa mengajak teman-temanku? Tak semudah itu sepertinya, walaupun aku sering memikirkannya juga.

Sepertinya, ada ketakutan selain tak punya waktu menulis untuk diriku sendiri. Ketakutan itu adalah ketika tidak ada iklim menulis, ketakutan ketika aku sendiri yang terus menulis tapi teman-temanku kutinggalkan, ketakutan ketika tidak ada regenerasi semangat maupun kemauan untuk menulis. Jadi kupilih untuk terus menulis, sambil menngajak teman-temanku untuk menulis. Walaupun, lagi-lagi, ini sangatlah susah. Jadi harus segera cepat cari solusi dan menjalankan sousinya.

Hmm…sebenarnya ada satu pengalaman (baru-baru ini) yang begitu menjatuhkanku untuk terus berharap dan menanam kepercayaan kepada teman-temanku untuk mengajak mereka menulis. Kemarin aku berada dalam kondisi yang sangat memungkinkan untuk meninggalkan posisiku sekarang. Ada beberapa orang yang mengharapkanku untuk membantu mereka. Maaf ya, agak kurang jelas keterangan dari setiap apa yang ingin kuceritakan, soalnya aku tak ingin menjelaskannya secara detail, hehe.

Nah dalam kondisi seperti itu, beberapa dari teman-temanku mencegahku untuk pindah posisi. Ada yang bilang masih membutuhkan, ada yang mengancam pergi juga kalau aku pindah posisi, bahkan ada sampai yang memaki-makiku. Waah…benar-benar pusing waktu itu. Sementara pihak lain juga menekanku dari berbagai arah untuk pindah posisi. Mereka juga bilang tak perlu meninggalkan salah satu, tapi bisa jalan kedua-duanya. Tentu itu kata-kata yang susah dipegang dan dipercaya kebenarannya.

Lalu, kuputuskan untuk menolak pindah posisi apapun yang terjadi. Alasannya karena aku memang tak tertarik dari awal untuk pindah posisi, lalu aku ingin melakukan apapun yang kusuka, dan aku juga masih harus melakukan sesuatu untuk menuntaskan apa yang aku mulai. Mewujudkan iklim tulis menulis itu.

Sekarang belum jelas memang, apa aku akan pindah posisi atau tidak. Ada satu masalah yang membuat keputusan itu tertunda. Jadi punya jeda waktu untuk meredakan kepusingan.

Tapi apa yang terjadi ketika aku sudah bilang tak akan mau pindah posisi? Teman-temanku masih saja kurang bergairah untuk menulis, susah diajak kumpul, dan alin sebagainya. Ya memang tak semua malas, ada beberapa yang mau ngumpul maupun menulis. Tapi dari awal memang seperti itu. Ketika aku mengajak dan tidak begitu ada tanggapan. Aku merasakan hal yang sama, de ja vu lah. Dan konsdisi ini yang aku maksud sebagai kondisi  yang begitu menjatuhkanku untuk terus berharap dan menanam kepercayaan kepada teman-temanku.

Terus sekarang apa? Ya ngopi lagi merenung, melihat apa yang salah, mencoba memperbaiki dan menulis lagi. Setidaknya seperti yang kulakukan ini. Menulis pengalaman. Sebagai curahan hati, pikiran, dan semangatku yang kadang redup. Mungkin ini sekedar catatan kecil dari apa yang aku lakukan, apa yang aku ingin wujudkan, dan apa saja supaya aku kelihatan konsiten menulis. Tapi, setidaknya, lagi, ini adalah bukti kalau aku belum menyerah untuk saat ini. Kalau nanti? Ya, lihat sajalah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnalisme Kritis dan Outline?*

Sebuah pengantar

Perlu diketahui kalau jurnalisme kritis itu bukanlah sebuah genre jurnalisme. Ia hanyalah perpaduan antara jurnalisme dengan teori kritis dari aliran filsafat mazhab kritis (Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas). Mahzab ini sering dibandingkan atau dilawankan dengan yang namanya aliran positivis (Emile Durkheim, Max Weber, Auguste Comte). Kalau kita belajar filsafat mazhab kritis, kita akan tahu bahwa perbandingan antara positivis dan kritis ini mengacu pada penolakan para pemikir di mazhab kritis terhadap filsafat/ilmu positivis. Kenapa ditolak? Bagi pemikir mazhab kritis, ilmu positivis telah gagal membawa kesejahteraan kepada manusia.

Mengapa (Jurnalisme) Kritis?

Dulu, kakek saya pernah bertanya, “apa bedanya ilmu dengan harta?” Saya tak menjawab, bingung. Firasat saya mengatakan, kakek pasti punya jawaban yang tidak biasa. Dan benar dugaan saya, katanya “kalau harta, yang harus melindungi itu kamu. Tapi ilmu, ilmulah yang akan melindungimu”.

Aku Gila

Apa hanya mataku bisa melihat ini? Bahwa selama ini mataku dan mata teman-temanku telah dijejali kacamata kepalsuan Ketika aku dan teman-temanku sedang menyirami pikiran yang segar, ternyata kami sedang menyiraminya dengan racun dan racun itu di bungkus oleh buku pelajaran