Langsung ke konten utama

Cerita dengan Dia*


Terjebak dalam pikiran sendiri. Sebuah anggapan bahwa diri sudah bisa berubah dari hal yang kaku ke hal yang lunak. Awalnya berpikir bahwa kaku itu, egois itu yang benar, tapi setelah bersama mereka, aku sadar kalau egois itu tak selalu benar, dan lunak tak ada salahnya. Ketika mereka tertawa dan membuatku tertawa, aku berpikir dan merasa bahwa aku sedikit berubah. Ya aku memang berubah, tapi mereka tak begitu menginginkan aku yang lunak. Mereka menekanku dengan perasaan mereka, dan pikiranku terbolak-balik. Lunak pun tak selamanya baik, aku tahu itu, tapi mereka menyimpan ketakinginannya sampai akhir tiba. Mereka diam dalam tawa mereka. Aku tak tahu, hal-hal ini diluar batas pemikiranku. Ah, aku kalah.


Seperti kala itu ketika aku bertemu dengannya. Aku mengira akan sama seperti pertemuan yang lainnya, setelah semua selesai maka akan berakhir. Sayangnya, aku salah. Seperti saat pertama kali ia terbuka padaku, hal sederhana itu membuatku menginginkan hal lebih.


Walaupun aku masih percaya hal sederhana itu yang kuanggap sebagai hal yang lebih darinya. Aku tak terlalu memikirnya sekarang. Bukannya aku melupakan atau mengabaikannya. Aku hanya tak ingin terjebak di sana. Dan aku masih ingin melihatnya. Kesederhanaan itu. Aku ingin berjalan sambil melihatnya di sana.


Lamunan panjangku terganggu dengan datangnya sosok tinggi kurus. Ia duduk di sampingku, mengalihkan lamunanku dengan masalah yang ia hadapi. Entah ia hanya butuh pelampiasan atau memang butuh solusi. Aku tidak pernah memberikan keduanya pada siapapun dulu, sekarang aku terbiasa memberikannya secara cuma-cuma. Mendengar setiap detail masalahnya, lalu otakku mulai berpikir harus melakukan apa. Aku tidak suka menyela, aku hanya akan mendengarnya hingga ceritanya berakhir dan ia meminta padaku, entah minta tolong atau minta solusi.


Ketika aku terus mendengarkan masalahnya, aku semakin mempertanyakan diriku. Apa benar yang aku lakukan ini semacam cuma cuma dan ikhlas, atau aku hanya sedikit terpaksa? Aku tak tahu, yang pasti dua hal itu yang aku rasakan. Dua hal itulah yang pasti. Dan yang lebih pasti lagi adalah pertanyaan itu sendiri. Tapi aku mencoba membuatnya merasa kalau aku tetap ingin berkomunikasi dengannya.


Setelah ia bercerita, ia diam. Aku tidak tau ia menunggu apa, aku berpikir keras. Dan yang berhasil kupikirkan hanyalah, aku akan ke toilet sampai aku tau jawaban bagaimana meresponnya. Benar saja, kutinggalkan dia sebentar hanya untuk diam di toilet. Aku bahkan harus berkali-kali menatap jam tangan dan kaca wastafel, berharap aku tidak terlalu lama meninggalkannya. Kuhembuskan napas sebelum kembali menghadapnya dan memberinya solusi. Kuputuskan memberinya solusi, berharap memang itu yang dia harapkan.


Aku beranikan diriku untuk mengatakan apa yang ingin aku katakan padanya. Dengan senyum, aku mencoba menutupi sedikit kegugupanku. Lalu aku mengatakannya, mencoba memakai tempo bicara yang tenang dan memilih kata-kata yang rasional. Semenjak berhenti, lupa, buntu, bertanya ke diri sendiri, lalu ingat. Dan aku menyelesaikan kata kataku. Tapi... Yang tidak aku duga adalah, ia sudah menduga kalau aku akan berkata seperti itu.


Aku tertawa, begitu juga dengannya. Kegugupanku menguap begitu saja, dia lebih paham dariku tapi masih bertanya padaku. Kusadari lagi bahwa manusia memang begitu. Meski akan tau bagaimana tanggapan orang lain, dia akan tetap menceritakannya, melakukannya. Mungkin dia ingin jawaban, mungkin solusi, atau mungkin penasaran dengan tanggapan orang lain atau hal lain yang sementara ini tidak aku pahami.


Setelah berbicara tentang masalah masalahnya ia bercerita tentang hal-hal yang menyenangkan, lucu dan kadang menjengkelkanku. Aku pun terbawa suasana. Ikut bercerita, yang menyenangkan, lucu, dan membuatnya jengkel. Tapi di sisi lain aku berpikir, sebenarnya ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Dia tetap bisa tertawa dengan masalah seperti itu. Walaupun aku juga bingung bagaimana bisa seperti itu dan sepertinya ada yang selalu ia sembunyikan dariku. Hmm, entahlah, aku ingin menjalani yang seperti ini saja. Tiba tiba ia bilang kepadaku kalau ia mau pergi, lalu ia mengucapkan salam padaku, sambil tersenyum. Aku sendirian lagi. Duduk di sini.


*Fiksi ini ditulis berdua oleh wahyu dan zumroh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnalisme Kritis dan Outline?*

Sebuah pengantar

Perlu diketahui kalau jurnalisme kritis itu bukanlah sebuah genre jurnalisme. Ia hanyalah perpaduan antara jurnalisme dengan teori kritis dari aliran filsafat mazhab kritis (Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas). Mahzab ini sering dibandingkan atau dilawankan dengan yang namanya aliran positivis (Emile Durkheim, Max Weber, Auguste Comte). Kalau kita belajar filsafat mazhab kritis, kita akan tahu bahwa perbandingan antara positivis dan kritis ini mengacu pada penolakan para pemikir di mazhab kritis terhadap filsafat/ilmu positivis. Kenapa ditolak? Bagi pemikir mazhab kritis, ilmu positivis telah gagal membawa kesejahteraan kepada manusia.

Mengapa (Jurnalisme) Kritis?

Dulu, kakek saya pernah bertanya, “apa bedanya ilmu dengan harta?” Saya tak menjawab, bingung. Firasat saya mengatakan, kakek pasti punya jawaban yang tidak biasa. Dan benar dugaan saya, katanya “kalau harta, yang harus melindungi itu kamu. Tapi ilmu, ilmulah yang akan melindungimu”.

Aku Gila

Apa hanya mataku bisa melihat ini? Bahwa selama ini mataku dan mata teman-temanku telah dijejali kacamata kepalsuan Ketika aku dan teman-temanku sedang menyirami pikiran yang segar, ternyata kami sedang menyiraminya dengan racun dan racun itu di bungkus oleh buku pelajaran