Langsung ke konten utama

Ibu Pedagang



Aku hinggap di tempat yang pengap
Di mana malam begitu indah dengan lampu lampu
Dan ramai orang-orang berfoto, bersenang-senang
Tapi para pedagang jajanan ketakutan
Matanya tajam memperhatikan semua orang yang lewat
Pembeli kah? Teman kah? Pamong praja kah?

Aku bernafas bersama rokok kretek
Di mana malam hampir sampai ke pagi
Pedagang itu berjalan sambil menenteng dagangannya
Pulang ke rumah, untuk istirahat
Ketakutan, kecapekan, senyuman, dan setiap hari

Aku ingat sedikit pembicaraanku dengan ibu pedagang
Katanya, ia sering dikejar pamong praja, karena jualan
Katanya, ia di datangi mahasiswa untuk bantu mengerjakan ujian, lalu pergi
Katanya, ia disalahkan karena berdagang di tempat terlarang itu, oleh mahasiswa juga
Katanya, ia sedang menyembunyikan kanker rahim stadium empatnya, dengan senyuman

Aku masih ingat
Ibu itu punya tiga anak, bekerja mereka semua
Ibu itu masih saja bekerja, tak mau hanya menyusahkan anak-anaknya
Ibu itu wini namanya, berdagang di bawah tiang, di seberang jalan, di alun-alun yogyakarta

Aku sudah berkata padanya
Pemerintah tak mengayomi rakyatnya dengan baik, dan sepertinya ia lebih tahu
Mahasiswa tak berada di pihaknya, dan sepertinya ia juga lebih tahu
Ketimpangan terjadi di mana-mana, dan ia tahu
Tapi aku tak benar-benar mengenalnya, dan sepertinya ia juga tak begitu mengenalku
Malam yang pengap memang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnalisme Kritis dan Outline?*

Sebuah pengantar

Perlu diketahui kalau jurnalisme kritis itu bukanlah sebuah genre jurnalisme. Ia hanyalah perpaduan antara jurnalisme dengan teori kritis dari aliran filsafat mazhab kritis (Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas). Mahzab ini sering dibandingkan atau dilawankan dengan yang namanya aliran positivis (Emile Durkheim, Max Weber, Auguste Comte). Kalau kita belajar filsafat mazhab kritis, kita akan tahu bahwa perbandingan antara positivis dan kritis ini mengacu pada penolakan para pemikir di mazhab kritis terhadap filsafat/ilmu positivis. Kenapa ditolak? Bagi pemikir mazhab kritis, ilmu positivis telah gagal membawa kesejahteraan kepada manusia.

Mengapa (Jurnalisme) Kritis?

Dulu, kakek saya pernah bertanya, “apa bedanya ilmu dengan harta?” Saya tak menjawab, bingung. Firasat saya mengatakan, kakek pasti punya jawaban yang tidak biasa. Dan benar dugaan saya, katanya “kalau harta, yang harus melindungi itu kamu. Tapi ilmu, ilmulah yang akan melindungimu”.

Aku Gila

Apa hanya mataku bisa melihat ini? Bahwa selama ini mataku dan mata teman-temanku telah dijejali kacamata kepalsuan Ketika aku dan teman-temanku sedang menyirami pikiran yang segar, ternyata kami sedang menyiraminya dengan racun dan racun itu di bungkus oleh buku pelajaran