Langsung ke konten utama

Kelemahanku, Ketakutanku



Kelemahanku, ketakutanku,
Ia adalah peneror rasa nyaman di pikiranku
Tak lebih dari sekedar samar dan semu
Tapi yang terror yang diakibatkan bukan main
Tekanan itu membuatku terasing dalam dingin

Kelemahan, ketakutanku
Saat ia merasukiku, ada rasa benci yang kuat kepada orang disekitarku
Orang-orang adalah penyakit, yang selalu membuatku sekarat
Seolah-olah aku adalah penjahat yang dikerumuni tikus liar
Dimakan sampai ke tulang tulangnya

Kelemahanku, ketakutanku
Ia memamng tak seterusnya member terror
Disisakannya secercah cahaya yang disebut harapan
Tapi cahaya itu selalu hilang ketika aku menangkapnya
Mungkin benar, ia hanya cahaya yang diciptakan pikiran semuku

Kelemahan, ketakutanku
Tak ada tulisan yang tersisa ketika aku selesai menghadapannya
Tapi ia juga tak pernah hilang
Ia selalu ada
Dan harus ada

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnalisme Kritis dan Outline?*

Sebuah pengantar

Perlu diketahui kalau jurnalisme kritis itu bukanlah sebuah genre jurnalisme. Ia hanyalah perpaduan antara jurnalisme dengan teori kritis dari aliran filsafat mazhab kritis (Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas). Mahzab ini sering dibandingkan atau dilawankan dengan yang namanya aliran positivis (Emile Durkheim, Max Weber, Auguste Comte). Kalau kita belajar filsafat mazhab kritis, kita akan tahu bahwa perbandingan antara positivis dan kritis ini mengacu pada penolakan para pemikir di mazhab kritis terhadap filsafat/ilmu positivis. Kenapa ditolak? Bagi pemikir mazhab kritis, ilmu positivis telah gagal membawa kesejahteraan kepada manusia.

Mengapa (Jurnalisme) Kritis?

Dulu, kakek saya pernah bertanya, “apa bedanya ilmu dengan harta?” Saya tak menjawab, bingung. Firasat saya mengatakan, kakek pasti punya jawaban yang tidak biasa. Dan benar dugaan saya, katanya “kalau harta, yang harus melindungi itu kamu. Tapi ilmu, ilmulah yang akan melindungimu”.

Aku Gila

Apa hanya mataku bisa melihat ini? Bahwa selama ini mataku dan mata teman-temanku telah dijejali kacamata kepalsuan Ketika aku dan teman-temanku sedang menyirami pikiran yang segar, ternyata kami sedang menyiraminya dengan racun dan racun itu di bungkus oleh buku pelajaran