Langsung ke konten utama

Dalam Kehidupan

Hidup memanglah bukan pilihan
Pilihan ada karena yang hidup tak ingin mati
Yang hidup tak tahu mengapa madu itu manis
Yang hidup tiba-tiba menginginkan yang manis
Hidup bagi yang bersuara atau  bagi yang diam


Jika hidup adalah pilihan
Mungkinkah kau akan memilih menjadi bunga?
Yang pasti akan hidup, yang pasti akan berbunga
Kau hanya perlu minum air, lalu berdiri di bawah matahari
Untuk menjadi indah
Kau hanya perlu diam dan menunggu waktu
Untuk  dicintai
Tapi tak punya daya untuk menahan injakan
Tak punya kuasa untuk membalas injakan
Tak punya mulut untuk menyuarakan tangisan
Hidup dan mati dalam kebisuan

Jalan menuju kematian
Maukah kau membayangkannya
Akankah kau takut? Akankah kau  biasa? Akankah kau senang?
Jika kau hidup tanpa mengetahui bagaimana rasanya mati,
Akankah kau mencoba bunuh diri?
Jika kau hidup
Akankah kau tanya mengapa?
Jika kau tidak merasakan apa-apa
Mengapa kau tanya mengapa?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnalisme Kritis dan Outline?*

Sebuah pengantar

Perlu diketahui kalau jurnalisme kritis itu bukanlah sebuah genre jurnalisme. Ia hanyalah perpaduan antara jurnalisme dengan teori kritis dari aliran filsafat mazhab kritis (Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas). Mahzab ini sering dibandingkan atau dilawankan dengan yang namanya aliran positivis (Emile Durkheim, Max Weber, Auguste Comte). Kalau kita belajar filsafat mazhab kritis, kita akan tahu bahwa perbandingan antara positivis dan kritis ini mengacu pada penolakan para pemikir di mazhab kritis terhadap filsafat/ilmu positivis. Kenapa ditolak? Bagi pemikir mazhab kritis, ilmu positivis telah gagal membawa kesejahteraan kepada manusia.

Mengapa (Jurnalisme) Kritis?

Dulu, kakek saya pernah bertanya, “apa bedanya ilmu dengan harta?” Saya tak menjawab, bingung. Firasat saya mengatakan, kakek pasti punya jawaban yang tidak biasa. Dan benar dugaan saya, katanya “kalau harta, yang harus melindungi itu kamu. Tapi ilmu, ilmulah yang akan melindungimu”.

Aku Gila

Apa hanya mataku bisa melihat ini? Bahwa selama ini mataku dan mata teman-temanku telah dijejali kacamata kepalsuan Ketika aku dan teman-temanku sedang menyirami pikiran yang segar, ternyata kami sedang menyiraminya dengan racun dan racun itu di bungkus oleh buku pelajaran