Langsung ke konten utama

Menulis

Dulu aku ingin menjadi penulis
Sekarangpun masih begitu
Dulu aku ingin banyak membaca buku
Sekarang aku sudah membaca beberapa buku
Dulu aku sering menulis
Tapi sekarang tidak begitu

Kenapa? Tanya aku kepada aku
Entahlah, jawab aku kepada aku
Jangan-jangan aku bukanlah aku
Mungkin saja begitu, pikir aku

Aku mulai takut
Takut jika tiba-tiba jika aku tidak bisa menulis
Jika aku bosan menulis
Jika aku masih di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jurnalisme Kritis dan Outline?*

Sebuah pengantar

Perlu diketahui kalau jurnalisme kritis itu bukanlah sebuah genre jurnalisme. Ia hanyalah perpaduan antara jurnalisme dengan teori kritis dari aliran filsafat mazhab kritis (Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas). Mahzab ini sering dibandingkan atau dilawankan dengan yang namanya aliran positivis (Emile Durkheim, Max Weber, Auguste Comte). Kalau kita belajar filsafat mazhab kritis, kita akan tahu bahwa perbandingan antara positivis dan kritis ini mengacu pada penolakan para pemikir di mazhab kritis terhadap filsafat/ilmu positivis. Kenapa ditolak? Bagi pemikir mazhab kritis, ilmu positivis telah gagal membawa kesejahteraan kepada manusia.

Mengapa (Jurnalisme) Kritis?

Dulu, kakek saya pernah bertanya, “apa bedanya ilmu dengan harta?” Saya tak menjawab, bingung. Firasat saya mengatakan, kakek pasti punya jawaban yang tidak biasa. Dan benar dugaan saya, katanya “kalau harta, yang harus melindungi itu kamu. Tapi ilmu, ilmulah yang akan melindungimu”.

Buku dan Senja (2)

Sudah tiga ronde Luis kalah dalam permainan catur melawan Albert. Albert menantang Luis lagi, ia merasakan kemajuan dari strategi catur Luis, tapi Luis menolaknya. Ia sudah bosan, dan ia berjanji akan mengalahkan Albert di waktu lain. Kemudian mereka melanjutkan bincang-bincang terkait buku yang mereka baca.